Search This Blog

Thursday, August 02, 2018

Kisah Nyata : Hidup untuk memaafkan

 Martha (35) adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya, Peterson, adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian warga di sekitarnya. Tapi, Martha hanya tersenyum dan berkata bahwa neneknya berkulit hitam dan kakeknya berkulit putih.

Perkataan Martha itu membuat anaknya, Monika, mendapat kemungkinan seperti itu, berkulit hitam. Dan begitulah, meski banyak warga yang tak puas, tapi mereka seperti menemukan jawaban atas kasus Martha.

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, Dr Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pendonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan, di antara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan pedonor tercocok. Ia lalu meminta seluruh anggota keluarga Martha berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Raut wajah Martha berubah. Tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satu pun yang cocok. Dokter memberi tahu, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, Martha dan suaminya harus “membuat” anak lagi, dan mendonorkan darah anak itu untuk Monika.

Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara, “Tuhan… kenapa menjadi begini?” Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya, berpikir. Dr Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat itu banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukemia. Lagi pula, cara itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap bayi pendonor. Tapi, bukan itu yang dipikirkan Martha. Akhirnya, masih dengan nada bingung, dia memandang Dr Adely, ” Biarkan kami memikirkannya dahulu.”

Malam kedua, Dr Adely tengah bergiliran tugas, ketika pintu ruangannya di dorong, dan dia melihat pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras,suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada Adely, “Kami ingin memberitahumu sesuatu, Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga rahasia ini, rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun ini.” Dokter Adely yang membaca betapa tegangnya pasangan itu, segera mengangguk.

Peterson bercerita. “Sepuluh tahun lalu, Mei 1992. Waktu itu anak kami yang pertama, Eleana, telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru ia pulang kerja. Malam itu, turun hujan lebat. Seluruh jalanan telah tiada orang satu pun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi, Martha mendengar suara langkah kaki, mengikutinya. Dengan ketakutan, Martha memutar kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan memperkosanya.

“Saat tersadar, Martha segera berlari, pulang. Malam telah pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila, ke luar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satu pun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing, menangis menahan kepedihan. Langit sepertinya runtuh!”

Peterson mengisak, dan ia melanjutkan ceritanya dengan tersendat. “Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dia kandung merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami, cinta kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.

“Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi, bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa. Apalagi, aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat. pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.”

Mata Dr Adely juga basah. Pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala, berkata, “Jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekali pun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika!”

Ia terdiam, memandangi Martha. “Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?”
“Demi anak ini, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya,” kata Martha.
Dr Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.

******

November 2002. Di koran Wayeli termuat berita pencarian seperti ini: 17 Mei 1992, di parkiran mobil ke-5 Wayeli, seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja harus “dibebani” untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia . Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Kami berharap, jika si ayah kandung membaca berita ini, semoga ia bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.”
Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah, apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.

Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr Adely bagaikan meledak, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan.

Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap. Saat itu juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. “Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya? Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini?”

Surat kabar Wayeli menulis topik: “Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan?” sebagai bahan diskusi.

Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada rumah sakit. Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam. Apalagi, sebagian telah bebas, dan tak semuanya karena tindak perkosaan. Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang ini. Begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk. Tapi sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu.

Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan. Tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, semua bersukarela mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satu pun pendonor yang memenuhi kriteria di antara mereka.

Berita pencarian ini mengharukan banyak orang. Tak sedikit orang yang bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum tulang belakang. Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya. Sayang, Monika tidak termasuk penderita yang beruntung.

Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai berpikir, mungkin orang hitam itu telah meninggal dunia. Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak bersedia merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul. Tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu.

******

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporak porandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili.

17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam, merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan, terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya. Tak peduli segiat apa pun dirinya, selalu memukul dan memakinya.

17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal, merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, di tengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran.

Di tengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorang pun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini. Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini.

Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik.

Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah dia perbuat. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah dia perkosa, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorang pun.

Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikit pun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan beranggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya. Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon Dr Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina, berkata, “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian.”

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?”

“Sedikitpun aku tak akan memaafkannya! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut! Ia benar-benar seorang pengecut!”

Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pahit itu pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur. Untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, “Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku!”

Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya. Ia pun memeluk erat-erat sang anak, “Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan ayah ya…”

Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata, “Baiklah, kumaafkan. Guru TK-ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya.”
Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri: “Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat?” Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri.

Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah. “Selamat pagi, manager!” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila. Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat terus diam , ia pun menelepon Dr Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu.”

Dr Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr Adely menambahkan kalimat terakhirnya, “Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya.”

Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika.

Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata, “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika! Aku harus menyelamatkannya!”

Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah, “Kau PEMBOHONG!”

Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan keduasuami-istri tersebut dengan segera mereda.
Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya, “Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur.

“Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya? Ataukah seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya?”

Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan. Lina menetapkan hatinya, “Ajili, pergilah menemui Dr Adely! Aku akan menemanimu!”

******

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr Adely. 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.
Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.

Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati kabar ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat, “Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan!”

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, ia pun menyetujui hal ini.

18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili. Saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam, tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir. Lalu, dengan suara serak Ajili sesenggukkan, “Maaf… mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu.”

“Terima kasih, kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku?”

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika! Sang dokter berkata dengan antusias, “Ini suatu keajaiban!”

22 Februari 2003, setelah sekian lama, harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat.

Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya. “Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian! Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di saparuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku!”

Friday, March 02, 2018

Perhitungan Pengorbanan

Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata,

“Aku lapar, bolehkah aku makan daunmu?”

Pohon mangga menjawab,

“Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak.
Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan indah lagi.
Lalu aku mungkin akan mati kekeringan.
Tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku.
Kiranya hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali.”


Ulat naik dan mulai makan daun-daunnya.
Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.
“Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu.
Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup dan makan daunmu.
Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah.”

Banyak manusia memperhitungkan untung rugi pengorbanan yang dilakukan.


“Jika saya memberi, saya akan kekurangan.
Atau, “Bagaimana kalau ternyata saya dibohongi?”


Tapi sadarkah, setiap orang yang suka memberi, pasti ada sukacita di hati?

Mother Teresa pernah berkata,

“Lakukan apa yang menjadi bagianmu,
dan jangan berpikir apa yang akan kamu dapatkan."


Lakukan apapun itu dengan hati yang tulus tanpa berharap apapun kecuali berkah dan ridha Allah SWT .

Satu Kesalahan Bisa Hapus Semua Kebaikan

Suatu hari seorang guru sekolah menulis di papan sebagai berikut:

9 × 1 = 7
9 × 2 = 18
9 × 3 = 27
9 × 4 = 36
9 × 5 = 45
9 × 6 = 54
9 × 7 = 63
9 × 8 = 72
9 × 9 = 81
9 × 10 = 90

Saat ia selesai, ia melihat ke siswanya dan mereka semua menertawakannya, karena persamaan pertama terjadi kesalahan, dan kemudian guru itu berkata :

"Saya menulis persamaan pertama salah ada tujuan, karena saya ingin memberi kalian suatu pelajaran yang penting.
Ini perlu bagi kalian untuk mengetahui bagaimana dunia luar sana akan memperlakukan kita.
Kalian sudah melihat bahwa saya menuliskan yang benar 9 kali, namun tidak satupun dari kalian mengucapkan selamat kepada saya.
Kalian semua tertawa dan mengkritik saya karena satu kesalahan yang saya lakukan.
Ini adalah pelajaran penting yang saya maksudkan :

Dunia tidak akan pernah menghargai satu juta perbuatan baik anda, namun akan mengkritik satu saja hal yang salah yang anda lakukan.

Tapi janganlah berkecil hati,

*SELALU BANGKIT DI ATAS SEMUA TAWA DAN KRITIK...*

*SEMOGA KUAT "*

Sunday, August 21, 2016

Badai kehidupan

Seorang anak mengemudikan mobilnya bersama ayahnya.
Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.


“Bagaimana, Ayah? Kita berhenti?” Si Anak bertanya.
“Teruslah.. !” kata Ayah.
Anaknya tetap menjalankan mobil. Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujanpun turun. 
Beberapa pohon bertumbangan, Bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Terlihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.


“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.

Anaknya tetap mengemudi dengan bersusah payah.
Hujan lebat membuat pandangan hanya berjarak beberapa meter saja.
Si Anak mulai takut namun tetap mengemudi walaupun berjalan sangat perlahan.


Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, dirasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang.
Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah mereka pada daerah yg kering & matahari bersinar.


“Silakan berhenti dan keluarlah”, kata Ayah.
“Kenapa sekarang?" balas anaknya .
“Agar kau BISA MELIHAT seandainya berhenti di tengah badai”.


Sang Anak berhenti dan keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Dia membayangkan orang-orang yang terjebak di sana. Dia baru mengerti bahwa JANGAN PERNAH BERHENTI di tengah badai KARENA akan terjebak dalam ketidakpastian.


Jika kita sedang menghadapi “badai” kehidupan, TERUSLAH berjalan, JANGAN berhenti dan berputus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus menakutkan.
Lakukan saja apa yang dapat kita lakukan dan yakinkan diri bahwa BADAI PASTI BERLALU.
Kita tidak akan pernah berhenti tetapi maju terus, karena kita yakin bahwa di depan sana Kepastian dan Kesuksesan ada untuk kita...

Saturday, December 05, 2015

Bahayanya penghakiman

Dalam suatu kereta ekonomi non-AC yg lumayan panas, Seorang eksekutif muda, dengan jas elegan berdiri di disana. Sesak2an dengan penumpang lain.

Sesaat kemudian, ia membuka tablet Androidnya. Lebih besar tentu dibanding smartphone umumnya.

Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu para korban kebanjiran.

Semua penumpang menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?

Seorang nenek2 membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik Ekonomi, pamer2an.'

Seorang emak2 membatin, 'Mudah2an suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji.'

Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan?'

Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; barang tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?'

Seorang pemuka agama melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu, pamer!'

Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue.'

Seorang tunawisma membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil.'

Si eksekutif menyimpan kembali tabletnya di tas. Ia membatin, Puji Tuhan, akhirnya para donatur bersedia membantu. Puji Tuhan, ini kabar baik sekali. Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.

Ia membatin 'Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan manfaat.:

Sahabat..
Begitu berbahaya nya penghakiman. Sebuah kebaikan, tindakan kasih, bisa berubah total menjadi kejahatan hanya karna persepsi kita.

Jaga persepsi kita, semua tak perlu kita nilai seperti penampakannya.

Saturday, November 14, 2015

Percakapan Seorang ayah dengan pacar anaknya

Percakapan Ayah cewek dan pacar anaknya

Ayah : "nak, om punya sesuatu buat kamu"

Cowok : "wah, om bisa aja hehe"
 

Lalu Ayah memberikan sebuah gadget terbaru kepada Cowok tersebut
 Cowok : "ini?? Buat saya om?"
 

Ayah : "iya, terimalah. Sebagai imbalan karena kamu sudah menjaga putri om"
Cowok : "(girang) wah, terimakasih om terimakasih banyak. Saya janji akan selalu jaga putri om (sun tangan)"
 

Ayah : "(tersenyum) iya, sekarang itu sudah jadi milikmu bukan? Tapi, om hanya minta sesuatu"
Cowok : "boleh om, apa itu?"
 

Ayah : "coba kau banting dulu gadget itu ke lantai"
Cowok :"(heran) loh, kenapa om? Tapi om yang sudah berikan untuk saya, kenapa saya harus membantingnya?"
 

Ayah :"lah? Memangnya kenapa? Itu hanya benda mati kan?"
Cowok :"iya om, tapi ini kan pemberian dari om. Ini juga barang yg mahal, saya tidak mungkin merusaknya. Apalagi ini sebuah pemberian"
 

Ayah :"apa kau takut barang tersebut rusak? "
Cowok :"iya om, karena saya menghargai om. Makanya saya harus menjaga nya"
 

Ayah :"oh begitu, lalu bagaimana dengan anak perempuan om?"
Cowok :" (bingung) maksud om?"
 

Ayah :"om memberikanmu sebuah gadget yang mungkin terbilang tidak murah. Setelah om berikan gadget itu untuk mu, tentu saja itu sudah jadi milikmu, hak mu. Namun saat om pinta untuk sekedar membantingnya ke lantai, kau pun tak tega. Kau bilang takut gadget itu rusak, dan kau tak mau mengecewakan om sebagai si pemberi. Bukan begitu? "
Cowok :"iya om, tapi apa hubungannya dengan putri om?"
 

Ayah :"nak, taukah kamu? Dia telah om jaga dari kecil, om dan tante rawat dia hingga sekarang, entah berapa biaya yg sudah kami keluarkan untuknya. Nak, om hanya mengizinkanmu untuk dekat dengan dia, bukan memberikan dia untukmu, itu berarti dia adalah hak dan milik om sepenuhnya,terkecuali jika kamu menikahinya. Kamu tak tega untuk membanting gadget milikmu tapi mengapa tak merasa bersalah saat menyakiti perasaan putri om? Padahal jelas dia bukan milikmu seutuhnya, tak ada hak apapun. tau kah kamu? Saat om melihat matanya sembab karena menangis semalaman, wajahnya kalut karena kurang tidur, ketahuilah bahwa kau lah penyebab itu,meskipun dia tak pernah bercerita kepada om. Bukan hanya perasaanya yg kecewa, perasaan om lebih kecewa. Kau bilang kau takut merusak gadget itu, padahal itu hanyalah benda mati, tapi mengapa kau dengan mudahnya merusak seseorang yang jelas mempunyai perasaan? Mengapa kamu tak tega untuk menghancurkan apa yg om perintahkan,tapi tanpa bersalah kamu menghancurkan hati seseorang yg om jaga. Percayalah, ketika kamu ingin menyakiti hati seorang wanita, ingatlah 2 orang, 1 ibumu 2 anak perempuanmu kelak"

Si cowok hanya terdiam, sambil menahan rasa sesak, ia memohon maaf kepada Ayah Si cewek

Tuesday, November 03, 2015

Jangan anggap remeh Moral dan Etika

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Namun, dia harus bekerja sambil kuliah. Dia memperhatikan bahwa sistem transportasinya ternyata menggunakan sistem "otomatis", artinya Anda membeli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian transportasi umum memakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa oleh petugas. Bahkan pemeriksaan insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada. Setelah dia menemukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya, dia memperhitungkan bahwa kemungkinan tertangkap petugas karena tidak membeli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik transportasi umum tersebut dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kelicikannya. Dia juga menghibur diri karena dia anggap dirinya adalah mahasiswa miskin, dan kalau bisa harus hidup seirit mungkin. Namun, dia tidak menyadari bahwa dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya.

Setelah 4 tahun berlalu, dia tamat dari sebuah kampus ternama dengan nilai yang sangat bagus. Ini semakin membuatnya penuh dengan kepercayaan diri. Dia mulai melamar kerja di beberapa perusahaan ternama di Paris dengan harapan besar akan diterima. Pada mulanya, semua perusahaan ini menyambut dia dengan hangat. Namun, berapa hari kemudian, semua perusahaan tersebut menolaknya untuk bekerja.

Kegagalan yang terjadi berulang kali tersebut membuatnya sangat marah. Dia mulai menganggap perusahaan-perusahaan ini rasis, tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan manajernya. Dia ingin tahu apa alasan semua perusahaan tersebut menolaknya bekerja. Ternyata, penjelasannya di luar persangkaannya.
Berikut ini adalah dialog mereka berdua:

Manajer: "Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu. Pada saat Anda melamar bekerja di perusahaan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian Anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, Anda sebenarnya pekerja yang kami cari."

Wanita: "Kalau begitu, kenapa tidak ada perusahaan yang menerimaku bekerja?"

Manajer: "Karena kami memeriksa sejarahmu, ternyata Anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik transportasi umum."

Wanita: "Aku mengakuinya. Tapi masa sih karena perkara kecil ini maka perusahaan menolak pekerja yang mahir dan banyak sekali tulisannya yang terbit di majalah?"

Manajer: "Perkara kecil? Kami tidak menganggap ini perkara kecil. Kami perhatikan bahwa pertama kali Anda melanggar hukum, itu terjadi di minggu pertama Anda masuk negara ini. Petugas percaya dengan penjelasan bahwa Anda masih belum mengerti sistem pembayaran. Anda diampuni, tapi kemudian Anda tertangkap 2 kali lagi setelah itu."

Wanita: "Oh, karena saat itu tidak ada uang kecil di kantong saya."

Manajer: "Tidak, tidak. Kami tidak bisa menerima penjelasan Anda. Jangan anggap kami bodoh. Kami yakin Anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap."

Wanita: "Itu bukanlah kesalahan yang mematikan. Kenapa harus sebegitu serius? Lain kali saya akan berubah, masih bisa bukan?"

Manajer: "Saya tidak anggap demikian. Perbuatan Anda membuktikan dua hal:

1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada. Anda pandai mencari-cari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri.

2. Anda tidak bisa dipercaya. Banyak pekerjaan di perusahaan kami tergantung pada kepercayaan. Jika Anda diberikan tanggung jawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka Anda akan diberikan kuasa yang besar. Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahaan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa memakai Anda. Saya berani katakan, di negara kami, bahkan di seluruh Eropa, tidak ada perusahaan yang mau memakai Anda."

Pada saat itu, wanita ini seperti terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Perkataan manajer yang terakhir telah membuat hatinya gentar.

Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk.

Tuesday, September 15, 2015

BUNGKUS atau ISI?

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya.

Bedakanlah apa itu "BUNGKUS" nya dan apa itu "ISI"nya.

"Rumah yg indah" hanya bungkusnya;
"Keluarga Bahagia" itu isinya.

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya;
"Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab" itu isinya.

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya;
"Tidur nyenyak" itu isinya.

"Makan enak" hanya bungkusnya;
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya.

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya;
"Kepribadian" itu isinya.

"Bicara" itu hanya bungkusnya;
"Kerja nyata" itu isinya.

"Buku" hanya bungkusnya;
"Pengetahuan" itu isinya.

"Jabatan" hanya bungkusnya;
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya.

"Pergi ke tempat ibadah " itu bungkusnya;
"Melakukan Ajaran Tuhan dalam hidup" itu isinya.

"Kharisma" hanya bungkusnya;
"Karakter" itu isinya.

Utamakanlah ISInya, namun rawatlah BUNGKUSnya...